jawab:
Multimedia adalah sajian informasi yang memanfaatkan lebih
dari satu medium. Dalam pengertian ini, buku ajar yang berisi gambar dan teks
dapat dikategorikan sebagai bahan ajar multimedia. Meskipun demikian, lazimnya
yang disebut bahan ajar multimedia adalah bahan ajar yang dalam penyajiannya
memanfaatkan rangsang terhadap indera penglihat dan indera pendengar. Istilah
multimedia pada mulanya berlaku untuk tayangan audio-visual yang menggunakan
perangkat penyaji audio-visual misalnya kaset video (video cassette
player/decoder), laser disc, VCD (video compact disc) player, DVD (digital
versatile disc) player. Saat ini, istilah multimedia lazim diberikan untuk
mendeskripsikan sajian bahan ajar yang menggunakan lebih dari satu media dan
bersifat interaktif. Di dalam sajian multimedia, yang umumnya menggunakan
perangkat komputer, diintegrasikan informasi dalam bentuk teks, gambar, video,
audio, dan animasi. Penggunaan komputer atau perangkat lain berbasis komputer
memungkinkan penayangan sajian informasi bersifat interaktif. Sekuen atau
runtutan jalannya informasi bergantung pada respon yang diberikan oleh pengguna
atau penikmat informasi.
Integrasi berbagai bentuk informasi dalam bahan ajar
multimedia berpotensi menimbulkan kejenuhan kognitif bagi penggunanya apabila
tidak dilakukan dengan hati-hati dan berpegang pada teori belajar yang sesuai.
Pada penayangan informasi melalui slide presentasi (misalnya PowerPoint,
Macromedia Flash, Corel Presentation), sering terjadi perancang
mengintegrasikan begitu saja tayangan slide lengkap dengan latar belakang musik
atau efek suara yang tidak sesuai dengan konteks tayangan. Maksud perancang
mungkin ingin menjadikan tayangan informasinya lebih ‘menarik’. Masalahnya, di
balik tayangan yang ‘menarik’ tersembunyi potensi munculnya kejenuhan kognitif
akibat sibuknya saluran informasi pada penikmat tayangan dalam menyalurkan dan
mengolah informasi. Artikel ini membahas potensi timbulnya kejenuhan kognitif
pada pengguna bahan ajar multimedia dan upaya untuk mengatasinya melalui
perancangan yang memperhatikan aspek beban kognitif.
Teori Kognitif Pembelajaran dengan Multimedia
Mayer
mengemukakan teori pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni:
1.
Asumsi dual kanal, yang menyatakan
bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk
informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif.
Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki
sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal
auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah
tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat
tutur (speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya
video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua
kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2.
Asumsi keterbatasan kapasitas, yang
menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam
setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa
menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa
informasi tutur (auditif). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori
yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun
beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa
rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu
saat.
3.
Asumsi pemprosesan aktif, yang
menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk
mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak
seperti tape recorder yang secara
pasif merekam informasi
melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi
dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model
mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran
secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan
materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam
struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di
dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya.
contoh
media yang relevan dari ke-3 asumsi diatas untuk pembelajaran kimia
adalah sseperti saya ambil materi mengenai unsur golongan alkali, media
yang dipakai disini dapat berupa powerpoint untuk menampilkan gambar
serta penjelasan dari unsur-unsur golongan alkali,serta di dalam
powerpoint tersebut dapat kita tambahkan pula animasi serta vidio yang
menampilkan perubahan warna unsur-unsur golongan alkali. dengan media
seperti ini kita mendapati bahwa media ini dapat langsung menampilkan
informasi secara visual serta informasi secara verbal
Mengikuti asumsi Mayer (Mayer R. E., 1989), Gambar 1 berikut
ini menunjukkan model bagaimana manusia belajar dalam lingkungan pembelajaran
multimedia. Model belajar ini mengasumsikan manusia memiliki dua kanal menuju
memori kerja. Satu kanal berasal dari indera pendengaran dan kanal yang lain
berasal dari indera penglihatan. Bahan ajar multimedia mungkin berisi gambar
dan kata-kata (baik dalam bentuk tekstual maupun tuturan). Gambar dan narasi
tekstual (printed word) masuk menuju sistem pemroses kognitif pembelajar
melalui indera penglihatan, sedangkan narasi tuturan (spoken words) masuk melalui
indera pendengaran. Pembelajar tidak menerima semua informasi yang disajikan
melainkan memilih dan menyaring sesuai minat dan kepentingannya.
Informasi-informasi yang terpilih lebih lanjut diproses dalam memori kerja
pembelajar. Memori kerja ini memiliki keterbatasan dalam hal menyimpan dan
memanipulasi informasi di setiap kanal. Dalam memori kerja ini, pembelajar
secara mental mengorganisasikan gambar-gambar terpilih kedalam model piktorial
dan beberapa tuturan ke dalam model verbal. Kedua jenis informasi ini dipadukan
dengan informasi yang telah dimiliki pembelajar dari memori jangka panjang yang
merupakan gudang penyimpanan pengetahuan pembelajar.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat di adaptasi dalam menyiapkan suatu pembelajaran kimia!
jawab:
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jadi dapat di simpulkan bahwa teori dual coding ini dapat di
terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat
cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding
ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab
virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses
informasi yang kita sajikan
Assalamualaikum wr wb, terimakasih atas postingan anda mengenai teori dual coding,saya ingin bertanya mengapa teori dual coding dapat diterapkan dam pembelajarn kimia?
BalasHapuswaalaikumsalam wr wb terimakasih atas pertanyaannya. di dalam blog kan sudah dijelaskan bahwa teori dual coding merupakan teori yang menyatakan bahwa informasi akan di proses melalui salah satu dari dua channel yaitu chanel verbal atau chanel non verbal, nah lebih singkatnya kenapa teori ini dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia dikarenakan karena teori dual coding menggunakan channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses informasi yang kita sajikan. sehingga dengan teori dual coding ini kita bisa menyajikan sebuah materi pembelajaran kimia dengan multimedia yang didalamnya terdapat chanel verbal dan chanel nonverbal
BalasHapussaya hanya ingin menambahkan jawaban dari soal nomor 2 yaitu Teori dual coding, Cue summation dan cognitive load theory (CLT) adalah teori-teori yang berakar pada psikologi kognitif yang dijadikan landasan dalam merancang multimedia pembelajaran. Teori dual coding yang dikemukakan oleh Paivio (1986) menyatakan bahwa kognisi manusia menggunakan dua saluran pemrosesan informasi yaitu informasi verbal (logogens) berupa kata (lisan atau tertulis) dan informasi nonverbal (piktorial/imagens).
BalasHapusTeori dual coding mengidentifikasi tiga cara pemrosesan informasi, yaitu:
(a) pengaktifan langsung representasi verbal atau piktorial,
(b) pengaktifan representasi verbal oleh piktorial atau sebaliknya
(c) pengaktifan secara bersama-sama representasi verbal dan piktorial.
terimakasih atas tambahannya,memang benar yang saudari katakan nah disini saya dapat tarik kesimpulan bahwa teori dual coding ini dapat di terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses informasi yang kita sajikan
BalasHapusAssalamualaikum. Saya akan menambahkan sedikit materi pada postingan anda kali ini. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer, 2011).
BalasHapusSekian. Terimakasih
waalaikum salam wr wb,memang betul dan di atas telah di jelaskan bahwa Asumsi dual kanal, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur (speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua
BalasHapuskanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
Assalamualaikum, saya ingin bertanya pada tiga asumsi yang telah anda jelaskan apakah ketiga asumsi tersebut saling berhubungan antara satu dan yang lainnya?
BalasHapusterima kasih
waalaikum salam,menurut saya saling berkaitan contohnya saja antara Asumsi dual kanal, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif, dan asumsi keterbatasan kapasitas yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu
BalasHapusasslamu'alaikum wr.wb saya ingin menambahkan jawaban nomor satu.
BalasHapusContoh media pembelajaran kimia yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa kartu game, papan deret Volta, atau dengan media computer berbentuk animasi. Media pembelajaran kelarutan, hasil kali kelarutan, dan koloid dapat menggunakan media komputer yang mendukung animasi sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan banyak terdapat konsep dan hitungan kimia sedangkan materi koloid berupa konsep-konsep kimia. Media pembelajaran yang dapat digunakan berupa animasi percobaan pada media komputer sehingga siswa memahami konsep-konsep. Selain itu, animasi komputer tersebut dapat dilengkapi dengan soal-soal untuk melatih pemahaman materi yang disajikan secara menarik sehingga mendorong siswa untuk berlatih dengan suasana yang lebih menyenangkan.
disini saya kan sedikit menambahkan mengenai contoh dari aplikasi pembelajaran kimia dari asumsi dasar cognitive theory of multimedia learning (CTML) yang dikemukakan oleh Mayer (2001), yakni :
BalasHapusContoh media yang dapat digunakan dalam pembelajaran kimia adalah : pada materi hidrokarbon, dapat di tampilkan gambar atau struktur suatu senyawa hidrokarbon melalui media infokus yang telah dibuat sebelumnya dalam bentuk soft file power point sambil memberikan penjelasan secara verbal sehingga pembelajar dapat memproses informasi baik melalui kanal visual maupun kanal verbal. Dan terjadi proses pengintegrasian yang terjadi apabila pembelajar membangun jalinan antara model verbal dan model visual. Ketika ingin menampilkan suatu gambar maka harus memperhatikan beberapa prinsip contohnya prinsip keterdekatan waktu dengan menyajikan gambar dan teks yang berhubungan secara bersamaan. Kemudian materi hidrokarbon disampaikan secara sistematis, terurut dan jelas. Misalnya dimulai dari pengertian hidrokarbon, jenis-jenis hidrokarbon, struktur senyawa hidrokarbon, sistem penamaan senyawa hidrokarbon, sifat-sifat senyawa hidrokarbon dan reaksi-reaksi senyawa hidrokarbon. Selain itu gambar dan teks yang disajikan tidak boleh ditampilkan secara berlebihan, karena adanya keterbatasan kapasitas dalam memproses informasi jika gambar atau teks yang disajikan terlalu berlebihan maka otak tidak dapat menyerap semua informasi untuk dapat disimpan kedalam memori jangka panjang.
terimakasih, semoga bermanfaat :)
terimakasih atas tambahanan materinya
BalasHapusTeori dual-coding menyatakan bahwa informasi bisa diberi kode, disimpan, dan diperoleh kembali dari dua sistem yang berbeda secara fundamental, satu menyesuaikan dengan informasi verbal, yang lain menyesuaikan dengan image atau informasi visual. Presentasi-presentasi dual-mode bisa memperluas kapasitas memori kerja jika satu bagian dari instruksinya (misalnya, penjelasan-penjelasan tekstual) dihadirkan dalam bentuk auditory dan yang lain (misalnya, diagram) dalam bentuk visual, desain pesan seperti ini dapatmeningkatkan jumlah informasi yang bisa diproses tanpa muatan kognitif yang berlebih. Pebelajar sebagai penerima informasi mengintegrasikan kata-kata dan gambar secara lebih mudah saat kata-kata dihadirkan secara auditori daripada secara visual karena menggunakan prosesor-prosesor auditori dan visual dalam memori kerja secara efektif menghilangkan muatan kognitif yang berlebihan dari saluran visual.
BalasHapusterimakasih atas tambahannya
Hapusassalamualaikum saya ingin menambahkan Tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia learning, yakni: dual-channel (saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan-aktif).
BalasHapus1) Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2) Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3) Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasuk akalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja
Saya ingin menambahkan : Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan. Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja
BalasHapusassalamualaikum wr wb,saya ingin menambahkan sedikit mengenai jawaban nomor 2 seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
BalasHapusTeori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jadi dapat di simpulkan bahwa teori dual coding ini dapat di terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses informasi yang kita sajikan