19 Mar 2017
Tugas terstruktur 1
1. Menurut Teori cognitive of multimedia learning bahwa ada 3 asumsi
utama yang dijadikan acuan dalam merancang multimedia pembelajaran.
jelaskan ke-3 asumsi tersebut dengan memberikan masing-masing contoh
yang relevan untuk pembelajaran kimia!
jawab:
Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio
(Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang
diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara
terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jawab:
Multimedia adalah sajian informasi yang memanfaatkan lebih
dari satu medium. Dalam pengertian ini, buku ajar yang berisi gambar dan teks
dapat dikategorikan sebagai bahan ajar multimedia. Meskipun demikian, lazimnya
yang disebut bahan ajar multimedia adalah bahan ajar yang dalam penyajiannya
memanfaatkan rangsang terhadap indera penglihat dan indera pendengar. Istilah
multimedia pada mulanya berlaku untuk tayangan audio-visual yang menggunakan
perangkat penyaji audio-visual misalnya kaset video (video cassette
player/decoder), laser disc, VCD (video compact disc) player, DVD (digital
versatile disc) player. Saat ini, istilah multimedia lazim diberikan untuk
mendeskripsikan sajian bahan ajar yang menggunakan lebih dari satu media dan
bersifat interaktif. Di dalam sajian multimedia, yang umumnya menggunakan
perangkat komputer, diintegrasikan informasi dalam bentuk teks, gambar, video,
audio, dan animasi. Penggunaan komputer atau perangkat lain berbasis komputer
memungkinkan penayangan sajian informasi bersifat interaktif. Sekuen atau
runtutan jalannya informasi bergantung pada respon yang diberikan oleh pengguna
atau penikmat informasi.
Integrasi berbagai bentuk informasi dalam bahan ajar
multimedia berpotensi menimbulkan kejenuhan kognitif bagi penggunanya apabila
tidak dilakukan dengan hati-hati dan berpegang pada teori belajar yang sesuai.
Pada penayangan informasi melalui slide presentasi (misalnya PowerPoint,
Macromedia Flash, Corel Presentation), sering terjadi perancang
mengintegrasikan begitu saja tayangan slide lengkap dengan latar belakang musik
atau efek suara yang tidak sesuai dengan konteks tayangan. Maksud perancang
mungkin ingin menjadikan tayangan informasinya lebih ‘menarik’. Masalahnya, di
balik tayangan yang ‘menarik’ tersembunyi potensi munculnya kejenuhan kognitif
akibat sibuknya saluran informasi pada penikmat tayangan dalam menyalurkan dan
mengolah informasi. Artikel ini membahas potensi timbulnya kejenuhan kognitif
pada pengguna bahan ajar multimedia dan upaya untuk mengatasinya melalui
perancangan yang memperhatikan aspek beban kognitif.
Teori Kognitif Pembelajaran dengan Multimedia
Mayer
mengemukakan teori pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni:
1.
Asumsi dual kanal, yang menyatakan
bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk
informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif.
Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki
sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal
auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah
tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat
tutur (speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya
video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua
kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2.
Asumsi keterbatasan kapasitas, yang
menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam
setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa
menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa
informasi tutur (auditif). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori
yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun
beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa
rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu
saat.
3.
Asumsi pemprosesan aktif, yang
menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk
mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak
seperti tape recorder yang secara
pasif merekam informasi
melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi
dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model
mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran
secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan
materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam
struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di
dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya.
contoh
media yang relevan dari ke-3 asumsi diatas untuk pembelajaran kimia
adalah sseperti saya ambil materi mengenai unsur golongan alkali, media
yang dipakai disini dapat berupa powerpoint untuk menampilkan gambar
serta penjelasan dari unsur-unsur golongan alkali,serta di dalam
powerpoint tersebut dapat kita tambahkan pula animasi serta vidio yang
menampilkan perubahan warna unsur-unsur golongan alkali. dengan media
seperti ini kita mendapati bahwa media ini dapat langsung menampilkan
informasi secara visual serta informasi secara verbal
Mengikuti asumsi Mayer (Mayer R. E., 1989), Gambar 1 berikut
ini menunjukkan model bagaimana manusia belajar dalam lingkungan pembelajaran
multimedia. Model belajar ini mengasumsikan manusia memiliki dua kanal menuju
memori kerja. Satu kanal berasal dari indera pendengaran dan kanal yang lain
berasal dari indera penglihatan. Bahan ajar multimedia mungkin berisi gambar
dan kata-kata (baik dalam bentuk tekstual maupun tuturan). Gambar dan narasi
tekstual (printed word) masuk menuju sistem pemroses kognitif pembelajar
melalui indera penglihatan, sedangkan narasi tuturan (spoken words) masuk melalui
indera pendengaran. Pembelajar tidak menerima semua informasi yang disajikan
melainkan memilih dan menyaring sesuai minat dan kepentingannya.
Informasi-informasi yang terpilih lebih lanjut diproses dalam memori kerja
pembelajar. Memori kerja ini memiliki keterbatasan dalam hal menyimpan dan
memanipulasi informasi di setiap kanal. Dalam memori kerja ini, pembelajar
secara mental mengorganisasikan gambar-gambar terpilih kedalam model piktorial
dan beberapa tuturan ke dalam model verbal. Kedua jenis informasi ini dipadukan
dengan informasi yang telah dimiliki pembelajar dari memori jangka panjang yang
merupakan gudang penyimpanan pengetahuan pembelajar.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat di adaptasi dalam menyiapkan suatu pembelajaran kimia!
jawab:
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jadi dapat di simpulkan bahwa teori dual coding ini dapat di
terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat
cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding
ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab
virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses
informasi yang kita sajikan
teori pemrosesan informasi
Teori
Pemrosesan Informasi berbantuan Media
Disini saya akan menjelaskan bagaimana cara otak
memproses informasi yang di sampaikan oleh seseorang,baik itu dalam memori
jangka pendek maupun dalam memori jangka panjang.
Asumsi yang mendasari teori
ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.Berdasarkan
temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan
ilmu komputer, dikembangkan model berpikir.
Pusat kajiannya pada proses belajar dan
menggambarkan cara individu memanipulasi simbol
dan memproses informasi. Model belajar pemrosesan informasi
Anita E. Woolfolk (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema
yang dikutip berikut ini.
Gambar 1. Skema pemrosesan informasi
Model belajar pemrosesan
informasi ini sering pula disebut model kognitif
information processing, karena dalam proses belajar ini
tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory
atau intake register: informasi masuk
ke sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk periode waktu
terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi
masuk ke working memory yang digabungkan dengan
informasi di long-term memory.
2) Working
memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working
memory, dan di sini berlangsung berpikir
yang sadar. Kelemahan working memory sangat
terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan
sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term
memory, yang secara potensial tidak
terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi
yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah
betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di
dalamnya.
Diasumsikan,
ketika individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas). Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja
disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara
hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja
berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan
dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah
karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks,
animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang
bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan
ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka
panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama
dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain
pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian,
pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi.
Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada
pengertian akan makna yang dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut.
Dalam mengartikan penyampaian
informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media
pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar
mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media
berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu
pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian
animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan
informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses
penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan
tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui
teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang
berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar
(dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau
lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada
proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang
memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah
menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia
instruksional mempengaruhi kualitas performansi (Pranata, 2004). Beberapa teori
yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah
teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan
ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas
memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif
menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas.
Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat
multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi
pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang
berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan.Temuan-temuan penelitian
(Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding
theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting
yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa
kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi
pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Teori belajar yang oleh Gagne
(1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini
merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat
memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga
‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan
Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran
meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
Beberapa model telah dikembangkan di antaranya
oleh Gagne (1984), Gage dan Berliner (1988) serta Lefrancois, yang terdiri atas
tiga macam ingatan yaitu: sensory memory atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan
Jangka Pendek (IJPd) atau short-term/working memory, Ingatan Jangka Panjang
(IJPj) atau long-term memory. Berdasar ketiga model tersebut dapat dikembangkan
diagram pemrosesan informasi berikut ini:
INGATAN JANGKA PANJANG (IJPj)
1.
Ingatan Inderawi (II)
Sebagaimana terlihat pada
diagram di atas, suatu masukan/informasi yang terdapat pada stimulus atau
rangsangan dari luar akan diterima manusia melalui panca inderanya. Informasi
tersebut menurut Lefrancois akan tersimpan di dalam ingatan selama tidak lebih
dari satu detik saja. Ingatan tersebut akan hilang lagi tanpa disadari dan akan
diganti dengan informasi lainnya. Ingatan sekilas atau sekelebat yang didapat
melalui panca indera ini biasanya disebut ’sensory memory’ atau ‘ingatan
inderawi’. Berdasar pada apa yang dipaparkan di atas, dapatlah disimpulkan
bahwa, seperti yang telah sering dialami para guru dan telah dinyatakan dua
orang siswa di bagian awal tulisan ini, pesan atau keterangan yang disampaikan
seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan para siswa jika pesan atau
keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan inderawi. Alasanya, seperti
sudah dipaparkan tadi, Ingatan Inderawi hanya dapat bertahan di dalam pikiran
manusia selama tidak lebih dari satu detik saja. Pertanyaan penting yang dapat
dimunculkan adalah: Bagaimana caranya agar informasi atau keterangan seorang
guru tidak akan hilang begitu saja dari ingatan siswa?
2.
Ingatan Jangka Pendek (IJPd)
Suatu informasi baru yang
mendapat perhatian siswa, tentunya akan berbeda dari informasi yang tidak
mendapatkan perhatian dari mereka. Suatu informasi baru yang mendapat perhatian
seorang siswa lalu terkategori sebagai IJPd sebagaimana dinyatakan Gage dan
Berliner (1988, p.285) berikut: “When we pay attention to a stimulus, the
informations represented by that stimulus goes into short-term memory or
working memory.” Jelaslah bahwa IJPd adalah setiap Ingatan Inderawi yang
stimulusnya mendapat perhatian dari seseorang. Dengan kata lain, IJPd tidak
akan terbentuk di dalam otak siswa tanpa adanya perhatian dari siswa terhadap
informasi tersebut. IJPd ini menurut Lefrancois dapat bertahan relatif jauh
lebih lama lagi, yaitu sekitar 20 detik. Sebagai akibatnya, pengetahuan tentang
perbedaan antara kedua ingatan ini lalu menjadi sangat penting untuk diketahui
para guru dan diharapkan akan dapat dimanfaatkan selama proses pembelajaran di
kelasnya. Sekali lagi, perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan
dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang
disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik perhatian para siswa
terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu memotivasi siswanya, seorang
guru pada saat yang tepat sudah seharusnya mengucapkan kalimat seperti:
“Anak-anak, bagian ini sangat penting.” Tidak hanya itu, aksi diam
seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal dan contoh penting di papan
tulis, memberi kotak ataupun garis bawah dengan kapur warna untuk materi
essensial, menyesuaikan intonasi suara dengan materi, memukul rotan ke meja, sampai
menjewer telinga merupakan usaha-usaha yang patut dihargai dari seorang guru
selama proses pembelajaran untuk menarik perhatian siswanya. Namun hal yang
lebih penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan kemauan dan motivasi dari dalam
diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan mau belajar dan memperhatikan para
gurunya selama proses pembelajaran sedang berlangsung.
3.
Ingatan Jangka Panjang (IJPj)
Mengapa Ibukota Indonesia jauh
lebih mudah diingat daripada Ibukota Negeria? Untuk menjawabnya, perlu disadari
adanya suatu kenyataan bahwa Jakarta jauh lebih sering disebut dan didengar
namanya daripada Lagos; misalnya dari buku, pembicaraan, televisi, ataupun
koran. Karenanya, Jakarta sebagai Ibukota Indonesia kemungkinan besar sudah
tersimpan di dalam IJPj. Informasi yang sudah tersimpan di dalam IJPj ini sulit
untuk hilang, sehingga Jakarta dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa IJPj
adalah IJPD yang mendapat pengulangan. Kata lainnya IJPj tidak akan terbentuk
tanpa adanya pengulangan. Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan
merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di
kelas atau di rumah merupakan kata kunci yang akan sangat menentukan
keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka
waktu yang lama. Itulah sebabnya, ada guru berpengalaman yang menyatakan kepada
siswanya bahwa akan jauh lebih baik untuk belajar 6 × 10 menit daripada 1 × 60
menit. Selain pengulangan atau latihan, beberapa hal penting yang harus
diperhatikan Bapak dan Ibu Guru agar suatu pengetahuan dapat diingat siswa
dengan mudah adalah:
1. Sesuatu yang sudah dipahami akan lebih
mudah diingat siswa daripada sesuatu yang tidak dipahaminya. Contohnya, proses
untuk mengingat bilangan 17.081.945 akan jauh lebih mudah daripada proses
mengingat bilangan 51.408.791 karena bilangan pertama sudah dikenal para siswa,
apalagi jika dikaitkan dengan hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 yang
dapat ditulis menjadi 17–08–1945.
2. Hal-hal yang sudah terorganisir dengan
baik akan jauh lebih mudah diingat siswa daripada hal-hal yang belum
terorganisir. Contohnya, mengingat susunan bilangan 4, 49, 1, 16, 9, 36, dan 25
akan jauh lebih sulit daripada mengingat bilangan berikut yang sudah
terorganisir dengan baik: 1, 4, 9, 16, 25, 36, dan 49.
3. Sesuatu yang menarik perhatian siswa
akan lebih mudah diingat daripada sesuatu yang tidak menarik hatinya. Acara
televisi yang menarik perhatian para siswa akan memungkinkan para siswa untuk
duduk berjam-jam di depan TV dan jalan ceriteranya akan mampu mereka ingat
dengan mudah. Namun hal yang sebaliknya akan terjadi juga, yaitu suatu proses
pembelajaran yang tidak menarik perhatian mereka dapat menjadi beban bagi siswa
dan tentunya juga bagi para guru.
Daftar Pustaka
Pranata, Moeljadi. (2004). Efek
Redudansi: Desain Pesan Multimedia dan Teori Pemroses
Prinsip Dasar Media pembelajaran
A. Latar Belakang
B. Prinsip Dasar Media Pembelajaran
Pada dasarnya proses belajar
mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang terjadi antara pendidik dan
peserta didik, maupun antar peserta didik yang di dalamnya membahas suatu ide
atau pokok bahasan dengan harapan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang
bermanfaat baik itu bagi peserta didik maupun pendidik. Proses belajar mengajar
dapat dikatakan berhasil apabila telah tercapai dan tertanamkan sebuah
kompetensi dasar dari konsep yang telah diajarkan oleh pendidik. Setiap
pendidik pasti akan mengupayakan semaksimal mungkin proses belajar mengajar itu
agar berjalan dengan baik dan apa yang dipelajari tersampaikan seutuhnya kepada
peserta didik. Sebagai seorang pendidik haruslah mempunyai sikap kreatif dan
inovatif untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar seperti
penggunaan media yang bermacam-macam, agar peserta didik yang sedang
melangsungkan kegiatan belajar tersebut tidak merasa jenuh dan materi pun
tersalurkan dengan baik kepada mereka.
Dalam kegiatan pembelajaran media
mempunyai peran penting di dalamnya. Berbagai macam media pembelajaran saat ini
tersedia dan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Peranan
media dalam proses pembelajaran diantaranya adalah media pembelajaran harus
mampu menjadi alat perantara atau penyalur materi yang baik agar siswa atau
peserta didik mampu menerima dan memahami materi pembelajaran yang dipelajari
menggunakan media pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, kesesuaian antara
media pembelajaran yang dipilih dengan materi pembelajaran yang akan
disampaikan dapat menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pembelajaran yang
dilakukan.
Pemilihan media pembelajaran tentu tidak boleh
sembarangan dalam menentukan, akan sangat baik jika mengikuti prinsip-prinsip
tertentu dalam pemilihan media pembelajaran. Karena bila pendidik membuat media
yang sembarangan khawatir kegiatan belajar mengajar tersebut tidak berlangsung
dengan baik dan materipun tidak tersampaikan sepenuhnya kepada peserta didik.
Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang
guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau
dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, berikut ini akan
dibahas tentang prinsip penggunaan media pembelajaran, baik itu secara umum
maupun psikologis. Agar pendidik mengetahui dan dapat menentukan media yang tepat
untuk membantu menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar di kelasB. Prinsip Dasar Media Pembelajaran
a. Prinsip umum yang dipakai sebagai pedoman penggunaan media
intruksional, antara lain :
1. Penggunaan media pembelajaran bukan berarti mengurangi
pentingnya keberadaan pembelajar di kelas atau sebagai pengganti pembelajar
dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Media berfungsi sebagai alat belajar.
2. Tidak ada satu mediapun yang perlu dipakai dengan
memindai media pembelajaran yang lainnya adanya tiap jenis media dapat
digunakan sesuai dengan kegunaan masing-masing,
3. Setiap media pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan
kelemahan. Pembelajar perlu pandai memanfaatkan kelebihan dari suatu media di
sesuaikan dengan tujuan intruksional yang akan dicapai.
4. Media pembelajaran apapun yang akan digunakan pembelajar
perlu mengusahakan adanya partisipasi peserta didik dalam kegiatan belajar
(CBSA)
5. Pada waktu akan menggunakan media intruksional perlu
benar-benar memperhitungkan semua KSI.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip
pemilihan media pembelajaran adalah
1. Media yang dipilih perlu sesuai dengan tujuan dan materi
pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik peserta didik
yang belajar (tingkat pengetahuan pebelajar, bahasa pebelajar, dan jumlah
pebelajar yang belajar).
2. Untuk dapat memilih media yang tepat, pembelajar perlu
mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran.
3. Pemilihan media pembelajaran perlu berorientasi pada
pebelajar yang belajar, artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas
belajar para peserta didik.
4. Pemilihan media perlu mempertimbangkan biaya pengadaan,
ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat belajar.
Maka dari itu, wajar pemanfaatkan media pembelajaran dalam
kegiatan pembelajaran dapat dipakai sebagai dasar media pembelajaran mempunyai
kontribusi tidak sedikit pada keberhasilan pelajar. Hal ini disebabkan beberapa
faktor seperti :Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, Karakteristik pebelajar
atau sasaran, Jenis rangsangan belajar yang diinginkan, Keadaan lingkungan,
Kondisi setempat, Luasnya jangkauan yang dilayani.
B. Prinsip-prinsip Penggunaan Media
Pembelajaran
Prinsip pokok yang harus
diperhatikan dalam penggunaan media pada setiap kegiatan belajar mengajar
adalah bahwa media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar
dalam upaya memahami materi pelajaran. Dengan demikian, penggunaan media harus
dipandang dari sudut kebutuhan siswa. Hal ini perlu ditekankan sebab sering
media dipersiapkan hanya dilihat dari sudut kepentingan guru. Contohnya, oleh
karena guru kurang menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, maka guru
persiapkan media OHT, dan oleh sebab OHT digunakan untuk kepentingan guru, maka
transparansi tidak didesain dengan menggunakan prinsip-prinsip media
pembelajaran, melainkan seluruh pesan yang ingin disampaikan dituliskan pada
transparan hingga menyerupai Koran (Arisandi, 2011).
Ketika suatu media akan dipilih
dan dipergunakan, saat itulah beberapa prinsip perlu pendidik perhatikan dan
dipertimbangkan dengan baik dan tepat. Keberhasilan penggunaan media
pembelajaran tergantung dari beberapa faktor, seperti proses kognitif dan
motivasi belajar siswa. Oleh karena itu para ahli mengajukan prinsip-prinsip
kelayakan media pembelajaran sehingga menghasilkan media pembelajaran yang
efektif. Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media
pengajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:
1. Tujuan Pemilihan
Memilih media yang akan digunakan
harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemilihan
media itu untuk pembelajaran (siswa belajar), untuk informasi yang bersifat
umum, maupun untuk sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong? Lebih spesifik
lagi, apakah untuk pengajaran kelompok atau individual, apakah untuk sasaran
tertentu seperti anak TK, SD, SMP, SMU, tuna rungu, tuna netra, masyarakat
pedesaan, ataukah masyarakat perkotaan. Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan
kemampuan berbagai media.
2. Karakteristik Media Pengajaran
Setiap media mempunyai
karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya,
maupun cara penggunaanya. Memahami karakteristik berbagai media pengajaran
merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan
keterampilan pemilihan media pengajaran. Di samping itu, memberikan kemungkinan
pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara bervariasi.
Sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media tersebut, guru akan dihadapkan
kepada kesulitan dan cenderung bersikap spekulatif.
3. Alternatif Pilihan
Memilih pada hakikatnya adalah
proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan. Guru bisa menentukan
pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang
dapat diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu,
maka guru tidak bisa memilih, tetapi menggunakan apa adanya.
C. Prinsip Psikologis dalam Pemilihan dan
Penggunaan Media Pembelajaran
Pemilihan media pembelajaran
tentu tidak boleh sembarangan dalam menentukan, akan sangat baik jika mengikuti
prinsip-prinsip tertentu dalam pemilihan media pembelajaran. Dalam penggunaan
media pembelajaran juga perlu mendapat perhatian khusus terutama bagaimana
penggunaan media serta hal-hal yang mempengaruhi. Faktor pada siswa atau
peserta didik juga perlu diperhatikan agar media pembelajaran dapat digunakan
secara baik dan benar dan mampu mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dengan
baik, bahkan diharapkan media pembelajaran mampu mengambil peranan penting
dalam proses pembelajaran.
Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya bahwa pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak boleh
dilakukan secara sembarangan dan harus mengikuti prinsip-prinsip tertentu.
Arsyad (2013: 71) mengemukakan dari segi teori belajar, terdapat beberapa
prinsip psikologis yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaan media
pembelajaran. Prinsip-prinsip psikologis dalam pemilihan dan penggunaan media
pembelajaran tersebut adalah:
1. Motivasi
Media pembelajaran yang dipilih
dan digunakan hendaknya mampu menumbuhkan motivasi atau minat dan keinginan
belajar peserta didik. Proses pembelajaran yang dialami siswa akan sangat baik
jika memberikan kesan dan pengalaman yang bermakna sehingga siswa mudah untuk
mengingat dan memahami materi pembelajaran yang diterima.
2. Perbedaan Individual
Siswa merupakan sebuah kelompok
belajar yang heterogen. Ini berarti bahwa siswa satu dengan siswa lain memiliki
latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Faktor intelegensi, tingkat
pendidikan, kepribadian, gaya belajar, serta faktor lain mempengaruhi bagaimana
masing-masing siswa menerima pelajaran atau materi. Media pembelajaran harus
mampu menyelaraskan kemampuan masing-masing siswa agar mampu menerima inti
materi pembelajaran.
3. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran sangat
mempengaruhi media pembelajaran yang dipilih. Kesesuaian antara tujuan
pembelajaran dan media yang dipilih mampu mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran.
Siswa juga harus mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mampu memanfaatkan
media pembelajaran yang dipilih dengan baik dan benar.
4. Organisasi Isi
Pembelajaran akan dapat dilakukan
dengan benar jika isi dan segala sesuatu yang mendukung pembelajaran diatur
atau diorganisasikan menurut urutan yang baik. Mendahulukan mana yang perlu
diprioritaskan serta memisahkan berdasarkan tingkat kesulitannya.
5. Persiapan Sebelum Belajar
Persiapan juga memegang peranan
penting dalam proses pembelajaran. Persiapan yang baik tentu lebih memudahkan
proses pembelajaran dilakukan. Penggunaan media pembelajaran tertentu juga
terkadang memerlukan persiapan khusus agar mampu memahami dan menggunakan
dengan baik. Namun bukan berarti dengan persiapan yang baik lalu pembelajaran
akan berjalan lancar begitu saja, proses pembelajaran tetap harus juga
diperhatikan dan diawasi dengan seksama.
6. Emosi
Media pembelajaran merupakan alat
atau cara yang tepat untuk menghasilkan respon emosional seperti faktor takut,
cemas, empati, cinta kasih, dan kesenangan. Perhatian perlu ditujukan pada
elemen rancangan media agar hasil maupun mempengaruhi bukan hanya pengetahuan,
namun juga sikap peserta didik.
7. Partisipasi
Pembelajaran dapat berlangsung
dengan baik jika terjadi komunikasi secara 2 arah. Partisipasi aktif dari siswa
tentu menunjukkan bagaimana penerimaan materi oleh siswa. Interaksi baik dengan
guru maupun media pembelajaran sangat baik dibandingkan siswa hanya diam
menerima informasi yang diberikan saja.
8. Umpan Balik
Hasil belajar mampu ditingkatkan
apabila secara berkala siswa menerima informasi mengenai kemajuan belajarnya.
Umpan balik hasil atau kemampuan belajar ini sangat mempengaruhi aspek motivasi
dan keinginan belajar siswa yang berkelanjutan.
9. Penguatan
Penguatan atau reinforcement
sangat bermanfaat untuk keberlangsungan dan keberlanjutan belajar siswa. Siswa
mendapatkan dorongan sehingga mampu secara positif mempengaruhi perilaku.
10. Latihan dan Pengulangan
Informasi atau materi akan dapat
diterima secara keseluruhan oleh peserta didik jika dilakukan pengujian dan
pengulangan. Latihan dan pengulangan sangat berguna agar siswa mampu lebih
menguasai materi dan materi tersebut dapat dipahami siswa bukan hanya pada saat
dipelajari saja, namun juga untuk jangka panjang.
11. Penerapan
Media pembelajaran mampu membantu
siswa untuk memahami konsep materi pembelajaran. Namun bukan sebatas memahami
saja, siswa juga harus mampu menerapkan materi-materi yang dipelajari dalam
berbagai kasus terutama keseharian. Media pembelajaran juga mampu membantu
peserta didik untuk melakukan analisis terhadap sesuatu hal yang dapat
mempengaruhi tingkat dan kemampuan berpikir peserta didik.
Prinsip psikologis ini merupakan
aspek-aspek yang banyak berpusat pada siswa. Pemilihan dan penggunaan media
pembelajaran sangat perlu memperhatikan prinsip-prinsip psikologis ini sehingga
mampu memberikan pengaruh bukan hanya dalam pembelajaran namun juga pada siswa.
Siswa atau peserta didik tentu akan mudah mengikuti pembelajaran jika media
pembelajaran yang dipilih tepat digunakan dan mampu mempengaruhi siswa secara
positif pada berbagai aspek.
Pengembangan e-learning dalam Pembelajaran Kimia
Pengertian e-learning pada umumnya
terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi
pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet,
intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga
diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama
proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengembangan E- learning mengenai Hidrokarbon
Tahap
keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan
ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan
untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil
pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak
dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain
itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning
yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi
belajar siswa
Pengertian e-learning berbeda dengan
pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh
(distance learning). Online learning merupakan bagian
dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian
National Training Authority bahwa e-learning merupakan
suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu
meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua
media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi
lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran
yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang
menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas
cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media
elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance
learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap
waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat
diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi
informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan
internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di
lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak variasinya,
karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono
(2007), menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran
secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan
pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah
dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing
list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan
pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem
informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana
pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian
tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan
ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1. Web Supported e-learning,
yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan
penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap
muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online
termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara
online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih banyak dimaknai sebagai
pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online.
TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan)
yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara
cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada
beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik
dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran
penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi
tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah
kemandirianPengembangan E- learning mengenai Hidrokarbon
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974),
yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design),
pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1.
Tahap
pendefinisian (define)
Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan
pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1)
analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa
bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan
subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2
dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa
yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang
dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang
hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan
mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2.
Tahap
perencanaan (design)
Tahap
perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat
soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan
siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan
media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung,
yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks
yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara
intensif dengan dosen pembimbing.
3.
Tahap
pengembangan (develop)
Pada
tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1)
konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media
dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2)
validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang
diperoleh dari validator,
(3)
analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian,
saran, dan kritik dari validator,
(4)
revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan
ajar yang akan digunakan, dan
(5)
uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari
produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4.
Tahap
penyebarluasan (disseminate)
14 Mar 2017
Alat peraga
Pada kali ini kami membuat alat peraga untuk materi tingkat SMP
Disini kami mengambil materi mengenai Teori Atom Rutherford. Untuk lebih jelasnya bisa di buka link di bawah ini :
https://youtu.be/Jii-ORs24-k
Disini kami mengambil materi mengenai Teori Atom Rutherford. Untuk lebih jelasnya bisa di buka link di bawah ini :
https://youtu.be/Jii-ORs24-k
Presentasi Multimedia Pembelajaran Kimia Hasil Pengembangan
Presentasi Multimedia Pembelajaran Kimia Hasil Pengembangan
Landasan Teoritis Media Pembelajaran
Landasan Teoritis Media Pembelajaran
A. Media Pembelajaran
Media
pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang
bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran menurut Gagne
dan Briggs (1975) media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan
untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder,
kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar,
grafik, televisi dan computer. Atau dengan kata lain Media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima,
sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat si penerima
pesan. Di dalam proses penyampaian informasi ini dengan menggunakan saluran
(media) maka komunikan akan menerima informasi/pesan tersebut melalui kelima
panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
Media
pembelajaran sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Media
pembelajaran tidak hanya dijadikan sebagai alat bantu, namun juga dijadikan
sebagai alat untuk mempermudah peserta didik dalam menyerap pesan yang
disampaikan. Pemilihan media yang sesuai akan meringankan pekerjaan pendidik,
dan juga dapat meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran.
Kesimpulannya, media adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima.
Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa
sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
B.
Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
Penggunaan media dalam proses pembelajaran
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses
pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien. Adapun beberapa landasan
dalam penggunaan media pembelajaran, adalah sebagai berikut:
1. Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya
berbagai jenis media hasil dari teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat
proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bisa dikatakan, penerapan teknologi
dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Tetapi, siswa harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi.
Jika guru menganggap siswa sebagai anak
manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan
pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil
teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap
menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan Psikologis
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan
pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta
memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan
disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak
akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan
dengan kontinuum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media
pembelajaran, ada beberapa pendapat.
Pertama, Jerome Bruner,
mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari
belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment)
kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic
representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak
tetapi juga untuk orang dewasa.
Kedua, Charles F. Haban,
mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat
realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis
media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
Ketiga, Edgar Dale, membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam
pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata,
dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan
media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan
simbol.
Salah satu gambaran yang paling
banyak digunakan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam
pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience).
Dalam proses pembelajaran, media
memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran
media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi
memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale
diatas mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan
diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung,
pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar
yang bersifat abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta
didik dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan
menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan peserta
didik sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami
sebagai pesan (decoding).
Dalam proses pembelajaran, media memiliki
kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media
tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi
memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran.
3. Landasan Teknologis
Teknologi
pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan,
pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi
pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang,
prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari
cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan
masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan
terkontrol. Dalam teknologi
pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan
komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau
seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadisistem
pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan,
media, peralatan, teknik, dan latar.
4. Landasan Empiris
Temuan-temuan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar
dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya
belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh
keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram,
video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan
lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau
ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar
tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional
empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar
kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik
pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5. Landasan Historis
Landasan historis media pembelajaran ialah
rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah
media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran
sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu
visual sekitar tahun 1923
Langganan:
Postingan (Atom)








